Pendidikan Tak Pernah Tamat: Mengapa Kita Masih Gagal Memahaminya?
Opini oleh: Gustriya Wijayanto
Berbicara tentang pendidikan, sebagian dari kita masih menganggap bahwa pendidikan hanya berlangsung di sekolah atau perguruan tinggi, dan berakhir saat ijazah diperoleh. Namun, benarkah demikian? Apakah proses belajar benar-benar selesai ketika seseorang lulus?
Pandangan tersebut keliru. Belajar tidak berhenti di ruang kelas, melainkan berlangsung sepanjang hidup.
Kritik Paradigma yang Keliru
Salah satu kekeliruan mendasar di masyarakat adalah menyamakan belajar dengan sekolah formal. Akibatnya, pendidikan dianggap sebagai tanggung jawab guru semata, sementara orang tua dan lingkungan seolah tidak memiliki peran. Padahal, belajar bisa terjadi di mana saja—di rumah, di lingkungan sosial, bahkan dalam pengalaman sehari-hari.
Kekeliruan lain adalah menyamakan pendidikan dengan ijazah. Ijazah memang menjadi bukti administratif bahwa seseorang pernah menempuh pendidikan, tetapi tidak menjamin bahwa proses belajar benar-benar terjadi. Pendidikan seharusnya berorientasi pada proses pengembangan diri, bukan sekadar hasil berupa gelar.
Selain itu, masih banyak yang beranggapan bahwa orang dewasa tidak perlu lagi belajar. Padahal, justru pada fase inilah seseorang dituntut untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya. Dalam dunia pendidikan, konsep andragogi menegaskan bahwa orang dewasa tetap merupakan pembelajar aktif sepanjang hayat.
Masalahnya bukan kita tidak tahu pentingnya belajar, tetapi kita terlalu cepat merasa sudah selesai belajar.
Dampak dari Paradigma yang Salah
Paradigma yang keliru ini membawa dampak nyata. Salah satunya adalah rendahnya minat baca dan belajar mandiri. Data yang sering dikutip menunjukkan bahwa minat membaca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah, meskipun indikator kegemaran membaca menunjukkan perbaikan.
Rendahnya literasi ini juga berdampak pada mudahnya masyarakat terpapar hoaks. Ketika kemampuan membaca dan berpikir kritis lemah, informasi cenderung diterima tanpa verifikasi.
Selain itu, berhenti belajar membuat seseorang sulit beradaptasi dengan perubahan. Di tengah perkembangan teknologi, sosial, dan budaya yang sangat cepat, kemampuan untuk terus belajar menjadi kunci agar tidak tertinggal.
Lifelong Learning: Konsep yang Belum Menjadi Budaya
Konsep lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat menekankan bahwa belajar adalah proses yang berlangsung terus-menerus, tanpa batas usia, ruang, dan waktu. Belajar dapat terjadi melalui jalur formal, nonformal, maupun informal.
Konsep ini sangat relevan di era modern yang penuh perubahan. Namun, dalam praktiknya, lifelong learning masih sering berhenti pada tataran wacana. Banyak orang masih menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah, tanpa menyadari bahwa proses belajar justru lebih luas dari itu.
Akibatnya, potensi individu tidak berkembang secara optimal, dan kualitas sumber daya manusia pun terhambat.
Perspektif Buddhis: Belajar sebagai Jalan Kebijaksanaan
Dalam perspektif Buddhis, semangat belajar sebenarnya telah lama diajarkan. Kisah tentang Sanjaya dalam Dhammapada Atthakatha menunjukkan bagaimana keengganan untuk terus belajar justru menjadi penghalang perkembangan diri. Meskipun telah menjadi guru, Sanjaya menolak untuk belajar kembali, karena merasa sudah cukup (Aggabalo, 2007). Kisah ini menjadi pengingat bahwa status, pengalaman, atau usia bukan alasan untuk berhenti belajar.
Dalam Dhammapada syair 152 juga disebutkan bahwa orang yang dangkal pengetahuan akan menua seperti lembu—bertambah usia, tetapi tidak berkembang kebijaksanaannya (Dhammadhiro, 2018). Pesan ini menegaskan pentingnya terus mengasah pengetahuan dan kebijaksanaan sepanjang hidup.
Demikian pula dalam Mahamangala Sutta, pendidikan yang baik dan keterampilan yang berkembang disebut sebagai berkah utama (Ṭhānissaro, 2016). Ini menunjukkan bahwa belajar bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi bagian dari proses pembentukan kualitas diri.
Peran Orang Tua sebagai Kunci
Dalam konteks ini, orang tua memegang peran yang sangat penting. Sayangnya, tidak sedikit yang masih menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah.
Padahal, orang tua adalah role model pertama. Anak cenderung meniru apa yang dilakukan, bukan sekadar apa yang diajarkan. Jika orang tua menunjukkan kebiasaan belajar—membaca, berdiskusi, atau refleksi—anak akan lebih mudah menginternalisasi nilai tersebut.
Bentuknya tidak harus kompleks. Hal sederhana seperti mendampingi anak belajar, mengajak berdiskusi, atau menanyakan apa yang dipelajari di sekolah sudah menjadi langkah nyata dalam membangun budaya belajar sepanjang hayat.
Jika Paradigma Tidak Berubah
Jika paradigma ini terus dipertahankan, kita berisiko menciptakan generasi yang cepat puas, kurang adaptif, dan minim daya kritis. Mereka merasa cukup dengan apa yang sudah dipelajari, padahal dunia terus berubah.
Akibatnya, pendidikan gagal melahirkan manusia pembelajar sejati.
Padahal, dalam sejarahnya, manusia selalu berkembang karena terus belajar—dari masa prasejarah hingga era modern. Belajar bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan untuk bertahan dan berkembang.
Refleksi: Belajar sebagai Cara Hidup
Pendidikan tidak pernah tamat. Ia bukan fase, melainkan cara hidup.
Pertanyaannya, apakah kita masih mau belajar hari ini?
Di tengah kesibukan, keterbatasan waktu, dan berbagai alasan, pilihan untuk tetap belajar adalah keputusan sadar. Ketika kita berhenti belajar, kita sebenarnya sedang membatasi diri kita sendiri.
Pada akhirnya, menjadi pembelajar sepanjang hayat bukan lagi pilihan ideal, tetapi kebutuhan. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membentuk generasi yang mampu berpikir, beradaptasi, dan berkembang.
Karena pendidikan sejatinya bukan tentang menyelesaikan sesuatu, melainkan tentang terus bertumbuh.
Daftar Bacaan
Aggabalo, B. 2007. Dhammapada Atthakatha. Jakarta: Perpustakaan Nalanda.
Dhammadhiro, B. 2018. Pustaka Dhammapada Pali – Indonesia. Tangerang Selatan: Sangha Theravada Indonesia.
Ṭhānissaro, B. 2016. The Discourse Group: a Translation with a Noteof The Sutta Nipata. California: Metta Forest Monastery.