Focus Group Discussion Kurikulum Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha STAB Syailendra Bersama Stakeholder untuk Pengembangan Kurikulum OBE
Kabupaten Semarang, 20 Juni 2026 – Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan tinggi dan menghasilkan lulusan yang kompeten sesuai kebutuhan masyarakat serta dunia kerja, Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Syailendra menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Kurikulum Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha (PKB) bersama berbagai stakeholder. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses penyusunan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang berorientasi pada capaian pembelajaran lulusan dan mendukung implementasi kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia.
FGD yang diselenggarakan pada Sabtu, 20 Juni 2026, pukul 09.00–12.00 WIB, dilaksanakan secara hybrid dengan menggabungkan pertemuan luring di kampus STAB Syailendra dan partisipasi daring melalui platform konferensi video. Melalui forum ini, STAB Syailendra membuka ruang kolaborasi bersama para pemangku kepentingan untuk memastikan kurikulum yang disusun tetap relevan, adaptif, dan mampu menjawab tantangan pendidikan di era yang terus berkembang.
STAB Syailendra Libatkan Berbagai Stakeholder dalam Pengembangan Kurikulum
Sebagai institusi pendidikan tinggi keagamaan Buddha, STAB Syailendra meyakini bahwa pengembangan kurikulum tidak dapat dilakukan hanya dari perspektif akademik. Oleh karena itu, penyusunan kurikulum melibatkan berbagai stakeholder yang memiliki keterkaitan langsung dengan proses pendidikan maupun dunia kerja.
Peserta FGD berasal dari berbagai unsur, antara lain:
- Pengguna lulusan;
- Sekolah dan lembaga mitra STAB Syailendra;
- Alumni Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha;
- Tokoh agama Buddha;
- Mahasiswa;
- Dosen dan Tim Pengembang Kurikulum.
Kehadiran berbagai pihak tersebut menjadi langkah strategis untuk memperoleh masukan yang komprehensif mengenai kompetensi lulusan yang dibutuhkan, tantangan profesi guru agama Buddha, serta perkembangan pendidikan keagamaan Buddha di Indonesia.

Tahapan Strategis dalam Review dan Penyusunan Kurikulum
Pelaksanaan Focus Group Discussion merupakan bagian dari rangkaian proses penyusunan kurikulum yang telah dimulai melalui evaluasi internal oleh Tim Pengembang Kurikulum Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha STAB Syailendra.
Pada tahap sebelumnya, tim telah melakukan berbagai kegiatan, seperti:
- Evaluasi implementasi kurikulum yang sedang berjalan;
- Analisis capaian pembelajaran lulusan (CPL);
- Kajian terhadap perkembangan kebijakan pendidikan tinggi;
- Analisis kebutuhan dunia kerja dan profil lulusan;
- Penyusunan rancangan awal kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE).
Melalui FGD bersama stakeholder, hasil kajian internal tersebut kemudian divalidasi dan diperkaya dengan berbagai perspektif dari pengguna lulusan serta mitra eksternal agar kurikulum yang dihasilkan memiliki relevansi yang tinggi.
Diskusi Interaktif Menghasilkan Berbagai Rekomendasi Konstruktif
Selama pelaksanaan FGD, suasana diskusi berlangsung aktif, terbuka, dan penuh semangat kolaborasi. Para peserta menyampaikan berbagai pandangan mengenai pengembangan kompetensi lulusan, struktur mata kuliah, metode pembelajaran, hingga kebutuhan keterampilan abad ke-21 yang perlu dimiliki oleh calon lulusan Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha.
Berbagai masukan yang diberikan mencakup penguatan pada aspek:
- Kompetensi pedagogik dan profesional calon guru agama Buddha;
- Penguasaan teknologi digital dalam pembelajaran;
- Kemampuan komunikasi dan kolaborasi;
- Penguatan karakter dan nilai-nilai Buddhis;
- Pengalaman belajar berbasis praktik lapangan;
- Keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah.
Rekomendasi tersebut menjadi bahan evaluasi yang sangat berharga dalam proses penyempurnaan dokumen kurikulum sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia pendidikan.
Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education (OBE) untuk Meningkatkan Mutu Lulusan
Salah satu fokus utama dalam pengembangan kurikulum Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha adalah penerapan pendekatan Outcome-Based Education (OBE). Pendekatan ini menempatkan capaian pembelajaran lulusan sebagai dasar dalam penyusunan profil lulusan, capaian pembelajaran (CPL), struktur kurikulum, mata kuliah, hingga sistem pembelajaran dan evaluasi.
Melalui kurikulum berbasis OBE, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu menunjukkan kompetensi, keterampilan, sikap profesional, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan pendidikan maupun masyarakat.
Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing tinggi, mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan pendidikan keagamaan Buddha, serta siap berkontribusi pada pembangunan masyarakat.
Komitmen STAB Syailendra Menghasilkan Lulusan yang Profesional dan Adaptif
Melalui pelaksanaan Focus Group Discussion ini, STAB Syailendra menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi melalui penyusunan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Kolaborasi bersama stakeholder menjadi bagian penting dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan. Masukan yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk penyempurnaan dokumen kurikulum, tetapi juga menjadi dasar dalam pengembangan strategi pembelajaran, peningkatan kualitas dosen, serta penguatan jejaring kemitraan dengan berbagai institusi.
Dengan kurikulum yang adaptif dan berorientasi pada capaian pembelajaran, Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha STAB Syailendra diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang profesional, kompeten, berintegritas, memiliki karakter Buddhis yang kuat, serta mampu berkontribusi secara nyata dalam dunia pendidikan, lembaga keagamaan, maupun masyarakat luas.

Kolaborasi Menuju Pendidikan Keagamaan Buddha yang Berkualitas
Pengembangan kurikulum merupakan proses berkelanjutan yang memerlukan sinergi antara perguruan tinggi, dunia kerja, alumni, organisasi profesi, tokoh agama, dan masyarakat. Melalui FGD ini, STAB Syailendra menunjukkan komitmennya untuk terus membuka ruang dialog dengan berbagai pihak guna memastikan kurikulum selalu relevan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan pendidikan, serta kebutuhan pengguna lulusan.
Semangat kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha yang unggul, adaptif, dan mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan pendidikan pada tingkat lokal, nasional, maupun global.
Penutup
Pelaksanaan Focus Group Discussion Pengembangan Kurikulum Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha STAB Syailendra menjadi salah satu langkah strategis dalam mewujudkan sistem pendidikan tinggi yang berkualitas dan berorientasi pada kebutuhan stakeholder. Melalui keterlibatan pengguna lulusan, alumni, mitra, tokoh agama Buddha, mahasiswa, dan dosen, proses penyusunan kurikulum menjadi lebih komprehensif, partisipatif, dan responsif terhadap dinamika dunia pendidikan.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, STAB Syailendra terus berkomitmen menghadirkan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang mampu menghasilkan lulusan Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha yang profesional, kompeten, adaptif, serta siap memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan keagamaan Buddha dan masyarakat Indonesia.