Bedah Buku “Seni Berdamai dengan Kenyataan Hidup” Karya Y.M. Bhikkhu Medhacitto

Kab. Semarang, 7 September 2026 — Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Syailendra kembali menghadirkan ruang belajar dan refleksi melalui kegiatan Bedah Buku “Seni Berdamai dengan Kenyataan Hidup” karya Y.M. Bhikkhu Medhacitto, B.A. (Hons), M.A. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis Ke-XXV dan Ulang Tahun Perak STAB Syailendra.

Karya Ke-12 Y.M. Bhikkhu Medhacitto

Buku Seni Berdamai dengan Kenyataan Hidup merupakan karya ke-12 Y.M. Bhikkhu Medhacitto, B.A. (Hons), M.A. Buku tersebut mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, khususnya mengenai bagaimana seseorang menghadapi berbagai kenyataan kehidupan dengan lebih bijaksana.

Melalui pembahasan yang mudah dipahami, buku ini mengajak pembaca untuk melihat kembali cara dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan, termasuk menerima hal-hal yang tidak dapat diubah serta menemukan cara untuk tetap menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan.

Dihadiri Sekitar 150 Peserta

Kegiatan bedah buku dilaksanakan pada Senin, 7 September 2026, pukul 19.00–21.00 WIB, bertempat di Pendopo Griya Samadhi Santi Ghosa, Kecamatan Getasan.

Acara tersebut diikuti oleh kurang lebih 150 peserta yang terdiri atas perwakilan pengurus vihara dan umat Buddha se-Kecamatan Getasan serta sivitas akademika STAB Syailendra.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadikan kegiatan tidak hanya sebagai forum untuk membahas sebuah buku, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan dan pembelajaran bersama bagi umat Buddha.

Bedah Buku Digelar Secara Hybrid

Untuk memperluas jangkauan peserta, kegiatan bedah buku juga dilaksanakan secara hybrid melalui Zoom Meeting. Dengan demikian, para alumni STAB Syailendra maupun peserta lainnya dari berbagai tempat dapat turut mengikuti jalannya kegiatan.

Format hybrid ini sekaligus memberikan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengikuti diskusi dan mendapatkan perspektif mengenai isi buku Seni Berdamai dengan Kenyataan Hidup.

Diskusi Berlangsung Interaktif

Kegiatan bedah buku berlangsung dengan suasana yang hangat dan interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan selama sesi diskusi, baik secara langsung maupun melalui Zoom Meeting.

Berbagai pertanyaan tersebut menunjukkan ketertarikan peserta untuk menggali lebih jauh gagasan yang disampaikan oleh Y.M. Bhikkhu Medhacitto, khususnya mengenai berbagai persoalan kehidupan sehari-hari dan bagaimana menyikapinya dengan lebih bijaksana.

Tema yang diangkat dalam buku juga menjadi salah satu daya tarik kegiatan karena berkaitan erat dengan pengalaman kehidupan setiap orang. Pembahasan mengenai kenyataan hidup, penerimaan, serta cara menghadapi berbagai kondisi kehidupan membuat diskusi terasa dekat dengan keseharian para peserta.

Menguatkan Literasi Dhamma dalam Kehidupan Sehari-hari

Melalui kegiatan ini, STAB Syailendra terus berupaya menghadirkan literasi Dhamma yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Buku menjadi salah satu media yang dapat membantu umat Buddha memahami nilai-nilai Dhamma sekaligus mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bedah buku juga menjadi bagian dari upaya STAB Syailendra untuk membangun ruang belajar yang tidak terbatas pada lingkungan akademik, tetapi dapat menjangkau umat dan masyarakat secara lebih luas.

Berdamai dengan kenyataan bukan berarti menyerah pada kehidupan. Sebaliknya, berdamai dapat menjadi proses untuk belajar memahami, menerima, dan menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.

STAB Syailendra Terus Menghadirkan Ruang Belajar dan Refleksi

Kegiatan Bedah Buku Seni Berdamai dengan Kenyataan Hidup menjadi salah satu bentuk komitmen STAB Syailendra dalam menghadirkan kegiatan edukatif dan reflektif bagi masyarakat.

Ke depan, STAB Syailendra berharap dapat terus menghadirkan kegiatan serupa dengan tema-tema yang relevan, menarik, dan memberikan manfaat bagi berbagai kalangan.

Melalui pendidikan, literasi, dan Dhamma, STAB Syailendra ingin terus menjadi ruang untuk bertumbuh, belajar, dan berbagi.

Semoga agama Buddha bertahan lama di seluruh dunia.