Sejarah Berdirinya STAB Syailendra di Jawa Tengah
STAB Syailendra merupakan perguruan tinggi agama Buddha di Jawa Tengah yang berdiri sebagai wujud komitmen dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia umat Buddha. Sejak awal berdirinya, STAB Syailendra hadir untuk mencetak pendidik, dhammaduta, dan sarjana Buddhis yang berintegritas, berkarakter, serta berlandaskan nilai-nilai Buddha Dhamma.
Latar Belakang Berdirinya STAB Syailendra
Berdirinya STAB Syailendra tidak terlepas dari berhentinya operasional STAB Mpu Tantular di Buntu, Banyumas pada tahun 1998. Sebelumnya, STAB Mpu Tantular dikenal luas di kalangan umat Buddha di wilayah Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, Cilacap, dan sekitarnya.
Di kampus tersebut, Bhikkhu Jotidhammo Thera, M.Hum. aktif mengajar berbagai mata kuliah keagamaan seperti: Bahasa Pali, Riwayat Hidup Buddha Gotama, Vinaya, Sutta, Abhidhamma, Sejarah Agama Buddha, dan Samadhi.
Beliau juga terlibat dalam penyusunan kurikulum dan kalender akademik sejak tahun 1990 hingga kampus tersebut berhenti beroperasi pada 1998.
Pengalaman dan dedikasi tersebut melahirkan cita-cita untuk melanjutkan keberadaan perguruan tinggi agama Buddha yang mampu menjawab kebutuhan pendidikan tinggi umat Buddha, khususnya di Jawa Tengah.
Visi Pengembangan SDM Umat Buddha di Jawa Tengah
Selain melanjutkan semangat STAB Mpu Tantular, pendirian STAB Syailendra juga didorong oleh kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia umat Buddha di Jawa Tengah.
Berdasarkan pengamatan terhadap pemuda Buddhis di berbagai daerah, terdapat potensi besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Pendidikan tinggi agama Buddha dipandang sebagai sarana untuk:
-
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
-
Membentuk karakter dan budi pekerti luhur
-
Mempersiapkan tenaga pendidik agama Buddha yang profesional
-
Mencetak dhammaduta yang kompeten
-
Membuka peluang kerja dan kemandirian ekonomi
Dengan dasar pemikiran tersebut, diselenggarakanlah pendidikan perguruan tinggi agama Buddha yang terstruktur dan berkelanjutan.
Makna Nama “Syailendra”
Nama “Syailendra” diambil dari Wangsa Syailendra yang membangun Candi Borobudur di Jawa Tengah. Wangsa Syailendra memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan agama Buddha di Indonesia.
Penggunaan nama ini mengandung harapan agar ajaran Buddha dapat terus berkembang dan bertahan lama, sebagaimana keagungan Borobudur yang menjadi simbol kebesaran peradaban Buddha di Nusantara.
Proses Pendirian dan Peresmian
Persiapan pendirian STAB Syailendra dimulai pada tahun 1999.
Proses pengurusan perizinan dilakukan pada tahun 2000, dan pembukaan perkuliahan dimulai pada 2001.
STAB Syailendra berdiri melalui kerja sama:
-
Padesanayaka Sangha Theravada Indonesia Provinsi Jawa Tengah
-
Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) Provinsi Jawa Tengah
Pada 10 September 2001, STAB Syailendra resmi berdiri yang ditandai dengan pembacaan surat pengesahan dari Departemen Agama Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha.
Peresmian dilaksanakan di Dhammasala Wihara Maha Dhamma Loka (kini dikenal sebagai Wihara Tanah Putih Semarang) di hadapan mahasiswa angkatan pertama.
Perkembangan Kampus STAB Syailendra
Kuliah perdana dilaksanakan pada 10 September 2001 menggunakan ruang serba guna di bawah kuti Wihara Tanah Putih.
Pada 20 April 2003, kegiatan perkuliahan berpindah ke Gedung Dasa Paramitta di Dusun Deplongan, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Peresmian gedung kampus dilakukan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha Departemen Agama Republik Indonesia dan dihadiri oleh para bhikkhu, tokoh lintas agama, donatur, serta umat Buddha.
Lokasi kampus di Kabupaten Semarang dipilih karena Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi dengan jumlah umat Buddha terbanyak di Indonesia.
Legalitas dan Yayasan Pendidikan Dharma Syailendra
Secara hukum, STAB Syailendra berada di bawah Yayasan Sammasambodhi yang didirikan pada 31 Oktober 2000 di Semarang.
Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Nomor: DJ.VI/51/SK/2002 tanggal 30 Juli 2002, STAB Syailendra resmi memperoleh pengesahan pendirian.
Pada 10 Juli 2007, Yayasan Sammasambodhi berubah nama menjadi Yayasan Pendidikan Dharma Syailendra (YPDS).
Legalitas ini memperkuat posisi STAB Syailendra sebagai perguruan tinggi agama Buddha yang sah dan diakui pemerintah.
Kontribusi STAB Syailendra bagi Pendidikan Buddha di Indonesia
Sejalan dengan program pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, STAB Syailendra berperan dalam:
-
Menyediakan pendidikan tinggi agama Buddha yang berkualitas
-
Mencetak guru Pendidikan Agama Buddha yang profesional
-
Menyiapkan dhammaduta yang mampu melayani masyarakat
-
Membentuk sarjana Buddhis yang berkarakter dan berwawasan kebangsaan
Mahasiswa dididik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang bermanfaat bagi kemanusiaan, lingkungan, dan kehidupan berbangsa.