• syailendrastab@gmail.com
  • 0298-318132

Sejarah Singkat STAB Syailendra

  Akreditasi    : B                        Nomor Akreditasi: 3250/SK/BAN-PT/Akred/PT/IX/2017

            Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Syailendra berdiri atas prakarsa Bhikkhu Jotidhamo Thera, M.Hum., selaku Padesanaya (Ketua Bhikkhu Daerah Pembinaan) Sangha Theravada Indonesia Provinsi Jawa Tengah. Latar Belakang berdirinya STAB Syailendra karena pada 1998 STAB Mpu Tantular, Buntu, Banyumas sebagai tempat Bhikkhu Jotidhammo Thera, M.Hum., mengajar Pendidikan Agama Buddha telah berhenti beroperasi. STAB Mpu Tantular pada pada awalnya secara umum merupakan sekolah tinggi yang terkenal di kalangan umat Buddha sekitar Buntu, Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, Cilacap, dan sekitarnya. Bhikkhu Jotidhammo Thera, M.Hum., mengajar dan menyertai dalam pembuatan kurikulum, pembuatan kalender akademik, dll. Di STAB Mpu Tantular Bhikkhu Jotidhamo Thera, M.Hum., mengajar bahasa Pali, Riwayat Hidup Buddha Gotama, Vinaya, Sutta, Abhidhamma, Sejarah Agama Buddha, Samadhi, dan/atau seluruh pelajaran yang berkaitan dengan keagamaan Buddha sejak 1990 mulai berdiri sampai dengan berhenti beroperasi 1998. Pengalaman dan ketertarikan mengajar tersebut yang membuat cita-cita Bhikkhu Jotidhammo Thera, M.Hum., meneruskan keberlangsungan STAB Mpu Tantular.

            Persiapan berdirinya STAB Syailendra diawali dari 1999, kemudian 2000 mengurus perizinan, dan 2001 dimulai pembukaan. Selain atas dasar meneruskan keberlangsungan STAB Mpu Tantular berdirinya STAB Syailendra juga didasarkan pemikiran dari Bhikkhu Jotidhamo Thera, M.Hum., terkait bagaimana kemajuan sumber daya manusia umat Buddha khususnya di Jawa Tengah dapat memperoleh pendidikan tinggi yang bercorak agama Buddha. Latar belakang tersebut juga didasarkan pada hasil pengamatan terhadap para pemuda Buddhis di beberapa daerah di Provinsi Jawa Tengah yang sebenarnya memiliki potensi untuk dapat melanjutkan pendidikan formal jenjang perguruan tinggi. Peningkatan kemampuan pengetahuan, keterampilan, dan budi pekerti para pemuda Buddhis dapat dimajukan melalui kuliah di sekolah tinggi agama Buddha. Melalui kemampuan yang dimiliki pemuda Buddhis dapat mendapatkan pekerjaan atau mata pencaharian yang layak. Berdasarkan pemikiran dan latar belakang tersebut, mendorong Bhikkhu Jotidhammo Thera, M.Hum., untuk menyelenggarakan pendidikan perguruan tinggi agama Buddha. Pemilihan nama Syailendra mengacu pada Candi Borobudur yang merupakan karya dari Wangsa Syailendra. Wangsa Syailendra telah memberikan sejarah perkembangan agama Buddha di Jawa Tengah dan Indonesia. Candi Borobudur telah menunjukan keagungan dan kebesaran agama Buddha pada waktu tersebut. Dengan digunakannya nama Syailendra terdapat harapan supaya ajaran agama Buddha dapat bertahan lama di dunia.

            Kerja sama Padesanaya Sangha Theravada Indonesia Provinsi Jawa Tengah dan dengan Pengurus Daerah (PD) Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) Provinsi Jawa Tengah menjadikan STAB Syailendra berdiri pada 10 September 2001. Berdirinya STAB Syailendra ditandai dengan dibacakannya surat-surat pengesahan dari Departemen Agama Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha mengenai berdirinya STAB Syailendra oleh Bhikkhu Jotidhammo Thera, M.Hum., didampingi Rama Pandita K.B. Soetrisno, B.B.A., dan Rama Pandita Drs. Sungkono Kusumadi dari PD Magabudhi Provinsi Jawa Tengah di Dhammasala Wihara Maha Dhamma Loka, yang sekarang dikenal dengan Wihara Tanah Putih Semarang di hadapan mahasiswa baru STAB Syailendra. STAB Syailendra didirikan di Provinsi Jawa Tengah karena provinsi tersebut memiliki jumlah umat Buddha yang terbanyak di Indonesia. Proses pendirian STAB Syailendra juga dibantu oleh beberapa tokoh dari PD Magabudhi Jawa Tengah yaitu Rama Pandita V. Sugiyarto, Bc.Hk., Rama Pandita K. Surya Dharmadji, Rama Pandita R. Warto, Bsc., serta beberapa tokoh Magabudhi yang lain. Dengan adanya STAB Syailendra diharapkan memberikan kontribusi
terhadap perkembangan agama Buddha di Indonesia

            Kuliah perdana STAB Syailendra pada 10 September 2001 dilaksanakan dengan menggunakan ruang serba guna di bawah kuti Wihara Tanah Putih. Pada 20 April 2003 kegiatan perkuliahan berpindah di Gedung Dasa Paramitta sebagai kampus STAB Syailendra di Dusun Deplongan, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Penempatan gedung baru tersebut ditandai dengan diresmikannya Gedung oleh Drs. I Wayan Suarjaya, M.Si., selaku Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha Departemen Agama Republik Indonesia, dan dihadiri beberapa bhikkhu anggota Sangha Theravada Indonesia, beberapa biksu anggota Sangha Mahayana Indonesia, para donatur, pejabat terkait, tokoh lintas agama, dan umat Buddha di Kabupaten Semarang.

            STAB Syailendra secara legal berada di bawah Yayasan Sammasambodhi yang berkedudukan di Semarang-Jawa Tengah, dengan akta notaris Tri Joko Subianto, S.H. No. 85 pada tanggal 31 Oktober 2000 akan mendirikan Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Syailendra yang yang beralamat di Jl. Salatiga–Kopeng Km.12, Deplongan–Kopeng, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Berdirinya STAB Syailendra didasarkan Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Nomor: DJ.VI/51/SK/2002 tanggal 30 Juli 2002. Sedangkan Yayasan Sammasambodhi didirikan pada 31 Oktober 2000 oleh Bhikkhu Jotidhamo Thera, M.Hum., dan pengurus serta anggota PD Magabudhi Jawa Tengah. Yayasan Sammasambodhi selanjutnya berubah menjadi Yayasan Pendidikan Dharma Syailendra (YPDS) pada 10 Juli 2007. Adapun pembina YPDS saat ini adalah Bhikkhu Dr. Jotidhammo, Mahathera selaku ketua pembina dan Bhikkhu Sri Paññavaro, Mahathera sebagai anggota beserta dua bhikkhu putra daerah yaitu Bhikkhu Abhayanando, Mahathera dan Bhikkhu Tejanando, Thera.

            Berdirinya STAB Syailendra sejalan dengan program pemerintah dalam peningkatan pendidikan yang berguna untuk ikut mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi manusia Indonesia seutuhnya yang memiliki budi pekerti yang luhur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undangundang Dasar 1945. STAB Syailendra mengakomodasi kebutuhan pendidik/guru pendidikan agama Buddha dan dhammaduta yang profesional. Pendidik yang profesional diharapkan dapat memberikan pelayanan pendidikan dan penerangan agama Buddha yang memadai sesuai dengan nilai-nilai Buddha Dhamma dan Pancasila serta perkembangan zaman. Umat Buddha di Indonesia dapat melanjutkan studi di STAB Syailendra guna meningkatkan budi pekerti atau karakter, memajukan pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap untuk menemukan, mengembangkan, serta menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, yang bermanfaat bagi kemanusiaan, lingkungan, dan alam.

Visi STAB Syailendra

Menjadi STAB yang unggul dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni berdasarkan nilai-nilai Buddha Dhamma dan Pancasila.

Misi STAB Syailendra

a) Menyelenggarakan pendidikan untuk menghasilkan insan cendekia berdasarkan nilai-nilai Buddha Dhamma dan Pancasila, b) Melaksanakan penelitian dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, agama, dan seni budaya, c) Melaksanakan pengabdian masyarakat sebagai penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, agama, dan seni budaya, d) Melaksanakan pengelolaan administrasi lembaga yang transparan dan akuntabel.