Wisuda Sarjana Ke-XX STAB Syailendra: Pendidikan untuk Pembebasan
Kabupaten Semarang, 10 September 2026 — Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Syailendra kembali menyelenggarakan Wisuda Sarjana Ke-XX STAB Syailendra pada Kamis, 10 September 2026. Pelaksanaan wisuda tahun ini menjadi semakin istimewa karena bertepatan dengan Dies Natalis Ke-XXV dan Ulang Tahun Perak STAB Syailendra.
10 September, Momentum Wisuda dan Dies Natalis STAB Syailendra
Tanggal 10 September telah menjadi bagian dari perjalanan akademik STAB Syailendra sebagai momentum pelaksanaan wisuda sarjana. Pemilihan tanggal tersebut tidak terlepas dari sejarah berdirinya STAB Syailendra yang juga diperingati setiap 10 September.
Dengan demikian, Wisuda Sarjana Ke-XX tahun ini menjadi bagian penting dari perayaan seperempat abad perjalanan STAB Syailendra dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi keagamaan Buddha.
Enam Wisudawan Siap Melanjutkan Pengabdian
Sebanyak enam wisudawan dinyatakan telah menyelesaikan pendidikan dan resmi diwisuda pada tahun 2026.
Wisuda tidak hanya menjadi penanda berakhirnya proses pendidikan di perguruan tinggi, tetapi juga menjadi awal dari perjalanan baru. Secara simbolik, para wisudawan dikembalikan kepada keluarga dan masyarakat untuk melanjutkan pengabdian serta mengambil peran sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai yang diperoleh selama menempuh pendidikan diharapkan menjadi bekal untuk menghadapi berbagai tantangan sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Education for Liberation: Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan
Dalam pidato Dhamma, Y.M. Bhikkhu Dr. Jotidhammo, Mahathera menyampaikan pesan kepada para wisudawan mengenai makna pendidikan yang sejalan dengan motto STAB Syailendra, “Education for Liberation” atau “Pendidikan untuk Pembebasan.”
Pendidikan dipandang bukan hanya sebagai sarana memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai upaya membebaskan manusia dari belenggu ketidaktahuan dan kemiskinan.
Namun, pembebasan tersebut tidak cukup hanya dengan menguasai pengetahuan. Para lulusan juga perlu memiliki kemampuan adaptasi agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, kehidupan masyarakat, serta dunia kerja.
Kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting agar ilmu yang diperoleh selama pendidikan dapat diterapkan secara nyata dan menjadi bekal dalam menghadapi kehidupan. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi dapat menjadi kekuatan untuk menghadapi tantangan dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Tradisi Sujud kepada Orang Tua sebagai Ungkapan Terima Kasih
Salah satu tradisi yang terus dipertahankan dalam Wisuda Sarjana STAB Syailendra adalah prosesi sujud para wisudawan kepada orang tua atau wali.
Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus ungkapan terima kasih atas doa, dukungan, kasih sayang, dan pengorbanan yang telah diberikan selama para wisudawan menempuh pendidikan.
Di balik keberhasilan seorang wisudawan, terdapat peran keluarga yang senantiasa memberikan dukungan dalam setiap proses perjalanan pendidikan. Karena itu, prosesi sujud menjadi salah satu momen penuh makna dalam rangkaian wisuda STAB Syailendra.
Melanjutkan Pendidikan, Meneguhkan Pengabdian
Wisuda Sarjana Ke-XX STAB Syailendra menjadi momentum untuk merayakan capaian akademik sekaligus merefleksikan kembali makna pendidikan.
Sejalan dengan semangat Education for Liberation, STAB Syailendra diharapkan terus menjadi ruang pendidikan yang membebaskan, mencerahkan, dan mempersiapkan generasi yang mampu beradaptasi serta berkontribusi di tengah masyarakat.
Selamat kepada seluruh wisudawan Sarjana Ke-XX STAB Syailendra. Semoga ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.
Selamat melanjutkan pengabdian yang nyata di tengah-tengah masyarakat.