Dosen STAB Syailendra Laksanakan Roadshow Pengabdian dan Pendampingan Dhamma di Kepulauan Riau
Pengabdian Masyarakat, Pendampingan Generasi Muda, dan Dhamma Sharing Jadi Bagian Penguatan Nilai Buddhis di Batam dan Tanjung Pinang
Batam–Tanjung Pinang, 5–10 Mei 2026 — Suranto, dosen STAB Syailendra, melaksanakan rangkaian kegiatan roadshow pengabdian kepada masyarakat di wilayah Kepulauan Riau. Kegiatan tersebut meliputi Dhamma sharing, pembinaan umat, serta pendampingan generasi muda Buddhis di Batam dan Tanjung Pinang.
Roadshow ini menjadi bagian dari komitmen sivitas akademika STAB Syailendra dalam memperkuat pemahaman Dhamma sekaligus membangun karakter masyarakat dan generasi muda Buddhis agar mampu menghadapi tantangan kehidupan modern secara bijaksana.
Pengabdian Masyarakat di Wihara Grha Buddha Manggala
Dalam rangka kegiatan Sebulan Pendalaman Dhamma, Suranto melaksanakan pengabdian kepada masyarakat secara mandiri di Wihara Grha Buddha Manggala pada 5–6 Mei 2026.
Pada pertemuan pertama, Suranto menyampaikan materi mengenai kekuatan Dhamma yang relevan dengan kehidupan masa kini. Melalui prinsip-prinsip Dhamma, umat Buddha diajak untuk menjalani kehidupan dengan lebih damai serta siap menghadapi perubahan zaman dan berbagai tantangan kehidupan modern.
Antusiasme umat terlihat dari keaktifan peserta dalam bertanya dan berdiskusi bahkan setelah Dhammadesana selesai dilaksanakan. Dalam closing statement-nya, Suranto mengajak umat untuk tetap adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.
Keesokan harinya, Suranto kembali menyampaikan materi mengenai pentingnya pengendalian diri di tengah kehidupan yang serba cepat dan instan. Ia menjelaskan bahwa kemampuan mengendalikan diri menjadi benteng penting agar seseorang tidak mudah terjerumus dalam arus kesenangan maupun nafsu keinginan.
Melalui ajaran Buddha tentang pengendalian diri, umat diingatkan untuk senantiasa menjaga indera dan mentalitasnya. Sebab pada hakikatnya manusia tidak mampu mengendalikan segala sesuatu di luar dirinya, melainkan hanya mampu mengendalikan apa yang ada di dalam dirinya sendiri.
Pendampingan Generasi Muda PATRIA di Batu Aji
Selain melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, Suranto juga mengadakan kegiatan pendampingan bagi generasi muda Buddhis di Batu Aji pada 8 Mei 2026.
Kegiatan tersebut ditujukan kepada anggota PATRIA Cetiya Manggala Utama dan dihadiri sekitar 30 peserta. Dalam kesempatan tersebut, Suranto menyampaikan materi bertajuk “Manusia yang Berjalan pada Dhamma” yang secara khusus ditujukan bagi kalangan generasi muda.
Kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi dan berbagai pertanyaan yang disampaikan, terutama terkait tantangan dan persoalan yang dihadapi anak muda di masa sekarang.
Semangat peserta tampak dari jalannya diskusi yang berlangsung hingga pukul 22.00 WIB, meskipun kegiatan dijadwalkan selesai pada pukul 21.00 WIB. Dari diskusi tersebut, peserta diajak memahami bahwa untuk menjadi manusia yang baik diperlukan pengetahuan dan keterampilan, kewaspadaan, kebermaknaan hidup, serta perhatian penuh dalam setiap langkah kehidupan.
Dhamma Sharing di Tanjung Pinang
Rangkaian roadshow kemudian dilanjutkan ke Tanjung Pinang pada 9–10 Mei 2026. Setelah menyelesaikan kegiatan di Batam, Suranto memberikan pelayanan Dhamma Sharing di Wihara Guna Wijaya dengan mengangkat tema “The Power of Full dan Transformasi Diri.”
Materi yang disampaikan mendapat sambutan hangat dari umat Buddha karena dinilai relevan dengan kondisi kehidupan saat ini. Dalam pemaparannya, Suranto menjelaskan bahwa kekuatan Dhamma yang dibangun melalui sikap skillful, careful, meaningful, dan mindful dapat menjadi dasar penting dalam melakukan transformasi diri yang positif.
Pada akhir diskusi, Suranto menyampaikan analogi tentang transformasi diri seperti kupu-kupu, bukan seperti ular. Kupu-kupu berawal dari ulat yang dianggap menjijikkan, namun mampu bertransformasi menjadi makhluk yang indah dan dikagumi banyak orang. Sebaliknya, ular hanya berganti kulit tetapi tetap menyimpan bisa yang beracun.
Melalui analogi tersebut, umat diajak untuk melakukan perubahan diri secara mendalam, bukan sekadar perubahan pada penampilan luar semata.