6519
Home / News

Berita

» Tri Suci Waisak 2563/20119 di STAB Syailendra
28 Mei 2019

 

 

 

Peringatan menyongsong Tri Suci Waisak 2563/2019 di STAB Syailendra dilakukan secara sederhana tetapi spesial karena di hadiri 5 Bhikkhu Sangha dan peserta Pabbajja Samanera sebanyak 32 samanera pada hari, Senin, 13 Mei 2019 di ruang serba guna STAB Syailendra. Hadir dalam peringatan ini umat Buddha di wilayah kecamatan Getasan, BEM STAB Smaratungga dan BEM STABN Raden Wijaya Wonogiri. Dalam dhammadesana oleh Y.M. Dr. Jotidhammo Mahathera dengan tema Mencintai Kehidupan Berbudaya Penjaga Persatuan.

Kehidupan Berbudaya

Kehidupan masyarakat telah berlangsung dengan corak budaya yang berwarna-warni sebagai warisan nilai-nilai luhur bagi masyarakat itu sendiri, kehidupan berbudaya menjadikan keindahan hidup masyarakat itu, masyarakat yang menjunjung tinggi kebudayaannya akan menyangga nilai-nilai luhur itu sebagai kekayaan spiritual turun-temurun, tersimpan dalam sikap, pola pikir bahkan adat istiadat masyarakat.

Dewasa ini kehidupan yang diwarnai dengan kondisi keragaman budaya memiliki kerentanan terhadap berbagai masalah. Masalah yang sering terjadi adalah sikap yang tidak bisa menerima bahkan ingin meniadakan budaya lain sehingga memicu timbulnya konflik, pertikaian dan permusuhan. Karena dipandang perlu melakukan penguatan kesadaran yang berpijak pada norma moral masyarakat. Norma moral masyarakat yang mendasari hidup bersama dengan saling menghidupi.

Penjaga Persatuan

Kerukunan hidup menjadi kebutuhan bersama, hal penting untuk mencapai tujuan mulia itu adalah dengan mengembangkan sikap saling asih, asah, dan asuh. Melalui ajaran, menuntun kita hidup menjauhi kemarahan dan kebencian, serta permusuhan. Terdapat perenungan untuk mengembangkan kualitas asih asah asuh itu: semoga semua makhluk hidup berbahagia, bebas dari derita, bebas dari mendengki dan didengki, bebas dari menyakiti dan disakiti, bebas dari derita jasmani dan batin, semoga mereka dapat menjalani hidup dengan bahagia. Pada umumnya semua orang mencintai kehidupan, setelah membandingkan antara orang lain dengan diri sendiri, hendaknya seseorang tidak membunuh atau mengakibatkan pembunuhan. Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa dalam pertengkaran mereka dapat binasa, tetapi mereka yang menyadari kebenaran ini akan segera mengakhiri semua pertengkaran.

Mereka yang berpijak pada pandangan sempit dirinya sendiri sebagai ukuran, bersikap keras, menindas orang lain akan berujung pada keretakan sosial serta pertengkaran. Pandangan sempit itu sangat sulit menerima perbedaan, karena yang ada pada pikirannya hanyalah pikiranku, tidak ada tempat bagi pikiranmu, yang benar hanya pandanganku sedangkan pandangan lain tidak benar. Pandangan sempit membuat tidak adanya persahabatan antara berbagai pandangan, bahkan yang ada hanya permusuhan antara berbagai pandangan. Pandangan lain dianggap sebagai lawan, bahkan hendak ditiadakan.

Selama seseorang masih berpijak pada pandangan sempit diri sendiri, ia terus terperosok pada pertengkaran di dunia. Keterikatan kuat terhadap pandangan sempit akan menyebabkan anggapan bahwa pandangan itu miliknya yang tak tergantikan, bahkan pandangan itu merupakan perwujudan aku/ego-nya yang tampak, dan keegoan itu memicu timbulnya keinginan menguasai orang lain agar menjadi seperti dirinya atau melenyapkan orang lain. Itulah yang menyebabkan seseorang berselisih dengan orang lain. Marilah kita berpikir demikian: pada hakikatnya benda-benda atau semua bentukan itu bukan milikku, karena mereka merupakan objek dari perubahan, begitu pula perasaan, persepsi, bentuk-bentuk pandangan itu bukan ego, bahkan kesadaran pikiran juga bukan ego atau aku. Perubahan yang ada, tidak ada milikku ataupun ego/aku yang tidak berubah, Apapun juga terkena perubahan, sehingga sejatinya bukanlah milikku atau bukan aku; dengan demikian pandangan sempit itu dapat dilepaskan.

Tujuh Prinsip Kesejahteraan Bangsa

Terdapat tujuh prinsip bagi kesejahteraan sosial, yaitu: sering melakukan pertemuan teratur; bertemu, berpisah, serta melakukan kegiatan-kegiatan dengan rukun; tidak melakukan apa yang belum pernah ditetapkan, tidak melalaikan apa yang telah ditetapkan, tetap berjalan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan bersama; memuliakan dan menghormat para sesepuh, serta menganggap mereka patut didengarkan petunjuknya; memuliakan dan menghormati para wanita (isteri dan anak perempuan); memuliakan dan mendukung keberadaan tempat-tempat ibadah; memuliakan dan memberikan tempat bagi kehadiran orang-orang suci. Prinsip-prinsip sosial itu menimbulkan kemajuan bukan kemunduran suatu bangsa, bahkan mendukung kesejahteraan bangsa.

Marilah kita mencintai kehidupan berbudaya yang terdapat dalam masyarakat yang beragam, dengan cara memiliki toleransi budaya yang berdasarkan pada pelepasan pandangan sempit milikku ataupun ego/aku, sehingga mampu memiliki sikap kebersamaan dalam perbedaan budaya. Mengembangkan kepedulian saling mengasihi, mengasuh, dan mengasah satu sama lain. Dengan kekuatan kesadaran seperti itu tumbuh semangat menjaga kerukunan, persaudaraan dan persatuan bangsa.

 

 

ShoutBox

Suranto
2014-08-22
Awal yang bagus! Terus update info yang terbaru dan dilengkapi data-datanya.

eko
2014-03-04
Coba


Name


Email

Comments

Type The Code

  428d 428c 428b 4l8428a 4i8 brgsmrsmnrgudepfs    btk